Revitalisasi Pendidikan Kejuruan: Peluang dan Tantangan

Dr. Tri Kuat, M.Pd. saat menyampaikan materi pada Kuliah Perdana Mahasiswa Baru MPV Semester Genap 2016/2017 di Ruang Meeting Kampus 2B UAD. (Foto:wins_pasca)
Kampus 2B UAD – Dalam kompetisi di era global saat ini, peran istitusi pendidikan khususnya pendidikan tinggi dituntut untuk melaksanakan pendidikan secara profesional agar dapat menghasilkan lulusan yang profesional pula.
“Kurikulum yang baik tidaklah cukup, bahkan tidak banyak artinya jikalau guru ataupun dosen sebagai pendidik tidak profesional,” ungkap Dr. Tri Kuat, M.Pd. saat menjadi pemateri pada Kuliah Perdana dan Orientasi bagi Mahasiswa Baru Magister Pendidikan Vokasi (MPV) Program Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (PPS UAD) di Ruang Meeting Kampus 2 Unit B UAD Jln. Pramuka (18/3/2017).
Dr. Tri Kuat yang mengisi materi Kuliah Perdana dengan tema Revitalisasi Pendidikan Kejuruan: Peluang dan Tantangan, menguraikan lebih lanjut bahwa tantangan generasi muda Indonesia, maupun anak-anak kita kedepan semakin hebat. Tantangan di dunia kerja khususnya, meski lapangan kerja berkembang pesat, akan tersedia kurang lebiah 15 juta lapangan kerja baru di ASEAN sampai dengan tahun 2030, akan tetapi generasi muda kita harus bersaing ketat dengan tenaga kerja asing yang memiliki etos kerja dan skill yang lebih baik.
Kenapa tenaga asing lebih siap?
Karena mereka telah dipersiapkan oleh institusi pendidikannya maupun oleh pemerintah dengan lebih profesional. Pemerintah, institusi pendidikan, dan dunia industri di Luar Negeri telah bersinergi untuk menghasilkan generasi yang profesional. Sedangkan lulusan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan kita di Indonesia, sebagian besar masih memiliki etos kerja yang rendah serta skill yang kurang memadai. Pemerintah, institusi pendidikan, dan dunia industri (DUDI) masih berjalan sendiri-sendiri. Bahkan dunia industri, dengan sistem kontrak bisa seenaknya memperlakukan tenaga kerja kita.
“Tenaga kerja kita di kontrak 1-2 tahun kemudian dilepas. Mereka menghadapi ketidakpastian dalam menghadapi masa depannya. Berfikir terus…setelah selesai disini mau pindah kemana? Begitu seterusnya. Dan lama-lama bisa frustasi kalau semakin tidak pasti,” ungkapnya.
Tri Kuat menegaskan bahwa itulah tantangan berat yang dihadapi pada saat ini. Banyak guru yang belum profesional, ditambah lagi beban administrasi guru yang seabreg menambah beban kerja yang luar biasa beratnya.
“Anak-anak didik kita, bersaing di dalam negeri saja susah, apalagi harus bersaing dengan tenaga kerja asing, lebih susah lagi,” tegasnya.
Untuk mengatasi dan mengantisipasi agar generasi kita tidak kehilangan banyak kesempatan menempati dunia kerja, maka guru harus meningkatkan profesionalisme dengan menambah pengetahuan dan pengalaman yang seluas-luasnya. Studi lanjut adalah salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru.
Tri berpesan agar mahasiswa dapat memanfaatkan semua program yang diselenggarakan oleh MPV UAD baik itu yang diselenggarakan di dalam negeri maupun yang dilaksanakan dengan perguruan tinggi partner di luar negeri.
“Dengan mengikuti pendidikan yang diselenggarakan oleh MPV UAD secara baik, maka Insya Alloh Saudara sebagai Guru SMK, nantinya akan mampu melakukan banyak inovasi dalam pendidikan dan pembelajaran di SMK masing-masing. Dan generasi emas pada tahun 2040 akan dapat kita persiapkan dengan baik sedini mungkin. Mulai dari sekarang!” pinta Dr. Tri Kuat tegas. (dans)